Sabtu, 29 Desember 2012

Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat

Fisika Ekor Bengkok pada Kadal Lompat
Agama agama atau kadal lompat memiliki ekor yang dapat dibengkokkan untuk membantu sang kadal saat melompat dan mendarat.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Robert Full dari Universitas California di Berkeley meneliti kadal kepala merah agama (Agama agama). Mereka merekam perilaku spesies yang sering juga disebut kadal lompat tersebut.
Hasil rekaman menunjukkan bahwa kadal lompat memiliki perilaku unik. Saat melompat dari permukaan horizontal ke dinding vertikal, kadal ini selalu membengkokkan ekornya ke atas. Ekor itu baru turun ketika kadal sudah "mendarat".
Para ilmuwan mengatakan, dengan membengkokkan ekor, kadal ini mendapatkan gerakan searah jarum jam dan efek ayunan berlawanan arah jarum jam di bagian depan tubuhnya. Dengan cara ini, kadal  mendarat dengan selamat bersama kaki yang mencengkeram dinding.
Dalam fisika, perilaku kadal lompat ini terkait dengan konsep momen inersia. Dengan mengayunkan bagian tubuh ke arah tertentu, maka sebenarnya kadal sedang mencondongkan bagian tubuh lain ke arah yang sebaliknya. Tujuannya menjaga keseimbangan tubuh si kadal.
Full mencoba mengadaptasi perilaku kadal pada robot. Ia membuat robot mobil seukuran kadal yang dilengkapi ekor. Saat robot ini dapat melompat di mana bagian depan akan mendarat lebih dulu. Namun, sudut datang ini dikoreksi dengan ekor sehingga robot yang dinamai Tailbot ini mendarat dengan rodanya.
Seperti diberitakan AFP, Rabu (4/1/2012), Full mengatakan bahwa bukan hanya kadal lompat yang memiliki strategi gerak seperti itu. Spesies lain seperti lemur dan bahkan dinosaurus berkaki dua pun memiliki strategi serupa.

Gedung "Nyentrik" Berkonsep Fisika

Karena sosok Yohanes Surya adalah fisikawan, konsep gedung ini dibuat berupa lingkaran dengan tujuh spektrum warna, berbentuk bulat dengan golden number angka-angka fisika.

Gedung berbentuk bulat dengan luas 5.800 meter persegi itu memang tampak memukau. Dibangun dengan konsep fisika yang diterjemahkan oleh arsitek Hendrajaya Isnaeni, tampilan gedung tersebut benar-benar dapat dinikmati baik dari dalam maupun luar bangunan.
Tentu, tak salah jika gedung ini "berbau" fisika. Karena gedung Surya Research and Education Center (SREC) didirikan di atas lahan di Gading Serpong, Tangerang, Banten, sebagai wujud kecintaan Prof Yohanes Surya terhadap pendidikan bagi anak-anak dari daerah tertinggal, salah satunya Papua.
"Karena beliau fisikawan, konsepnya ada lingkaran dengan tujuh spektrum warna, berbentuk bulat dengan golden number angka-angka fisika. Kami menerjemahkan adanya pergerakan elektron dari medan magnet," kata Hendrajaya di acara Jalan-jalan Karya Arsitek yang ditampilkan dalam Indonesia Architect Week at Tokyo 2011 (IAWT) oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Sabtu (18/12/2011).
Hendrajaya mengatakan, meski terdengar rumit, namun sebagai sebuah bangunan untuk pendidikan dan penelitian SREC harus dapat dinikmati dari dalam maupun luar bangunan.
"Kami buat ramp dari bangunan di dalam, bawah menuju ke atas, kemudian bisa terhubung sampai bangunan di luar. Fungsinya untuk mengurangi anak tangga dan komunikasi tetap berjalan sampai ke ruangan," ujarnya.

Kesan Sulit Matematika dan Fisika Harus Dihilangkan


Pendidikan sains dan teknologi kerap menjadi momok yang menakutkan di sekolah di Indonesia. Akibatnya, minat anak-anak terhadap pelajaran-pelajaran ini menurun.

Kecenderungan ini, ungkap Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie, harus dibenahi dan minat terhadapnya harus ditumbuhkan kembali. "Kesan bahwa mata pelajaran sains, khususnya matematika dan fisika, merupakan mata pelajaran yang sulit di mata anak-anak kita harus dihilangkan secara berangsur-angsur," tuturnya ketika membuka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-41 di Widya Graha LIPI, Senin (26/10).

Jenie melanjutkan, tujuan ini dapat dicapai melalui upaya perbaikan kandungan dan isi mata pelajaran, teknik pengajaran, pengadaan dan peningkatan mutu tenaga pengajar, serta sarana dan prasarana pendidikan sains dan teknologi.

Ia juga mengatakan, minat terhadap pelajaran sains dan teknologi harus dikembangkan sejak anak duduk di TK sehingga anak-anak dapat tumbuh sebagai peneliti-peneliti yang tekun.

Pemerintah dan sekolah perlu pula mengembangkan perpaduan antara kurikulum sekolah, teknik dan cara mengembangkan minat, teknik dan cara memperkenalkan prosedur riset, serta pencangkokan proyek riset dalam kurikulum sekolah.

Kesan Sulit Matematika dan Fisika Harus Dihilangkan


Pendidikan sains dan teknologi kerap menjadi momok yang menakutkan di sekolah di Indonesia. Akibatnya, minat anak-anak terhadap pelajaran-pelajaran ini menurun.

Kecenderungan ini, ungkap Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie, harus dibenahi dan minat terhadapnya harus ditumbuhkan kembali. "Kesan bahwa mata pelajaran sains, khususnya matematika dan fisika, merupakan mata pelajaran yang sulit di mata anak-anak kita harus dihilangkan secara berangsur-angsur," tuturnya ketika membuka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-41 di Widya Graha LIPI, Senin (26/10).

Jenie melanjutkan, tujuan ini dapat dicapai melalui upaya perbaikan kandungan dan isi mata pelajaran, teknik pengajaran, pengadaan dan peningkatan mutu tenaga pengajar, serta sarana dan prasarana pendidikan sains dan teknologi.

Ia juga mengatakan, minat terhadap pelajaran sains dan teknologi harus dikembangkan sejak anak duduk di TK sehingga anak-anak dapat tumbuh sebagai peneliti-peneliti yang tekun.

Pemerintah dan sekolah perlu pula mengembangkan perpaduan antara kurikulum sekolah, teknik dan cara mengembangkan minat, teknik dan cara memperkenalkan prosedur riset, serta pencangkokan proyek riset dalam kurikulum sekolah.

"Fisika Batik", Keindahan Batik dalam Logika Fisika



Tim peneliti dari Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir dan Rolan Dahlan, baru saja meluncurkan sebuah buku berjudul Fisika Batik.
Diluncurkan Rabu (1/7) siang tadi, peluncuran yang bertempat di Kafe FAB Toko Buku Gramedia, East Mall Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat, tersebut dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Prof Yohanes Surya sebagai pembicara.
Di buku ini, Hokky dan Rolan berusaha memperlihatkan dengan sederhana sebuah hubungan yang erat antara fisika dan batik. Hubungan tersebut mereka dapatkan melalui riset bersama Yayasan Surya Institute.
Hokky memaparkan bahwa fisika mampu mengungkapkan keindahan-keindahan yang dimiliki batik. Melalui buku ini akan terlihat jelas, sains modern dapat mendorong pemahaman mengenai filosofi dari seni batik. Acara peluncuran semakin ramai karena menarik perhatian pengunjung dan anak-anak yang tertarik akan fisika.
Sementara itu, Prof Yohanes Surya yang memberikan supervisinya untuk buku ini menyimpulkan bahwa batik pada dasarnya merupakan sebuah lukisan alam, tetapi disampaikan dalam bentuk yang berbeda.
"Ini adalah sebuah kemampuan luar biasa dari para leluhur kita. Batik yang diciptakan dengan peralatan sederhana itu mampu menerjemahkan keindahan alam dalam logika-logika fisika," tegasnya.
Secara khusus, Sultan sebagai pengisi antarmuka dari buku ini menyampaikan pendapatnya. Sultan mengatakan, batik sebagai kekayaan bangsa sesungguhnya mengandung kekayaan intelektual dari para pembuatnya.
"Ternyata hubungan antara fisika dengan batik sangat mendasar, meskipun dulu nenek moyang kita belum paham matematika," kata Sultan.
Berdasarkan perspektifnya sebagai orang Jawa, Sultan juga menyampaikan kegelisahannya akan perkembangan batik saat ini yang juga diklaim oleh negara lain.
"Kekayaan batik kita mencapai hingga 1.543 macam, namun yang terdaftar dalam HAKI baru sekitar 300 jenis. Melalui riset dan buku semacam ini saya berharap agar pelestarian batik akan lebih baik melalui pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai," harap Sultan.
Di acara peluncuran buku ini juga diperkenalkan Nugra Akbari, siswa kelas satu SMA Global Mandiri yang berhasil menciptakan software untuk mendesain batik melalui komputer. Dalam proses pembuatan program yang dinamainya sebagai "M-Batik" tersebut, Nugra juga dibimbing oleh Hokky dan Rolan.
Melalui karyanya ini Nugra berharap, generasi-generasi muda sepertinya semakin mengenali dan melestarikan batik sebagai kekayaan budaya nasional yang sangat luar biasa.

Ingin Jadi Einstein? Cintailah Musik!



 Apakah Anda ingin anak-anak Anda sepintar Albert Einstein? Cobalah membujuk mereka untuk mencintai musik. Mengapa begitu? Karena fisikawan terbesar sepanjang masa itu ternyata mendapat banyak ilham dan ide dari musik.
Albert Einstein adalah pakar fisika tak ada bandingannya karena dia begitu banyak memberikan kontribusi untuk banyak bidang ilmu fisika.
Namun jangan salah, dia tidak hanya dikenal karena jago fisika, tetapi juga karena kehidupan pribadinya yang amat berwarna, di antaranya karena kecintaannya pada musik.
Untuk berbagi ketertarikan sang mahaguru fisika ini kepada musik, pakar fisika partikel Brian Foster dari Universitas Oxford, Inggris, dan musisi Jack Liebeck menggelar pertunjukan spesial untuk Einstein.
Konser bertajuk "Einstein's Universe" itu kini sedang mengelilingi Inggris. Konser ini juga diselingi kuliah khusus dan pergelaran musik klasik yang mengeksplorasi warisan Einstein di bidang fisika, serta peran musik dalam kehidupan sang mahaguru fisika itu.
Dalam wawancaranya dengan physicsword.com, Foster membincangkan betapa musik telah mengilhami Einstein dan menjadi bentuk pelariannya dari riset-riset fisika yang dia gumuli.
"Dia sering bilang bahwa dia lebih banyak menikmati indahnya hidup setelah memainkan biola, ketimbang apa pun yang telah dilakukannya," papar Foster.
Foster melanjutkan, "Kami punya banyak bukti dari istrinya pada sebuah surat bahwa dia kerap menghentikan belajarnya semasa mereka tinggal di Berlin, menggaruk-garukkan kepalanya, kemudian bermain piano, lalu kembali belajar, dan akhirnya menuliskan ide-ide baru yang baru saja didapatkannya."
Profesor fisika dari Oxford ini juga mengungkapkan kemampuan bermusik Einstein.
"Saya kira benar jika Einstein disebut sebagai pemain biola yang amat piawai dan kompeten di masa mudanya. Dia mampu tampil di panggung di hadapan penonton bersama para musisi profesional, dan dia tak membodohi dirinya sendiri."
"Dia memanfaatkan kemasyhurannya untuk berkenalan dan berteman dengan banyak musisi hebat di masanya. Dia bersahabat dengan Fritz Kreisler sang pemain biola dan [Gregor] Piatigorsky si pemetik cello, dan mereka sering sekali bermain musik bersama."
Musisi Jack Liebeck, yang baru-baru ini dinobatkan sebagai musisi klasik Inggris terbaik tahun ini pada ajang Classical Brit Awards, menjelaskan bagaimana kolaborasi musik dan sains bisa terjadi, serta mengapa dia yakin format itu bisa bekerja baik.
"Saya ingat sekali sewaktu di sekolah dulu bahwa adalah baik sekali mempertahankan sesuatu tetap menarik. Gagasan memadukan banyak disiplin adalah satu cara untuk membuat betah pendengar.
"Jika Anda terus-terusan berbicara sains selama satu setengah jam, saya kira dengan segera mata kita menjadi mengantuk, dan orang-orang pun dipeluk oleh mimpinya masing-masing."
Pada konser untuk Einstein ini, Foster dan Liebeck tampil bersama di panggung untuk berduet memainkan biola, yang di antaranya membawakan sejumlah simfoni gubahan Wolfgang Amadeus Mozart.

Fisika Dinilai Sebagai Mata Pelajaran Tersulit


Menjelang pelaksanaan ujian nasional ini, kebanyakan siswa masih khawatir dengan mata pelajaran tertentu yang berpotensi menyulitkan mereka. Mata pelajaran fisika merupakan yang paling dianggap sulit.

Siswa kelas XII IPA SMAN 3 Kota Semarang Renaz Adi Nugroho (17), Jumat (17/4), mengaku, menambah porsi belajar f isika dibanding mata pelajaran lainnya dalam menghadapi UN ini.   
"Dari waktu belajar selama tiga jam sehari, dua jam sendiri saya sisihkan untuk fisika. Soalnya paling sulit dibanding yang lain," ucap Adi.

Titis Putri, pelajar Kelas XII IPA lainnya, juga mengaku, masih kesulitan dengan mata pelajaran fisika. " Untuk penguasaan materi, saya sudah mengikuti les privat untuk tiga kali seminggu," katanya.
Wakil Kepala SMAN 3 Semarang Didik Pradigdo mengakui, tingkat kelulusan siswa pada lima kali uji coba ya ng diadakan sekolah terus meningkat, dari 60 persen menjadi 96 persen. Di sekolah ini, sebanyak 542 siswa akan mengikuti UN dan ditargetkan dapat lulus seluruhnya.